"Huh... Liburan kali ini membosankan sekali!" Kata Nisa sambil mengusap keringatnya setelah bermain tenis cukup lama dengan Amel.
"Bagaimana kalau liburan kali ini kita ke pantai saja?" Kata Auzia, lalu kembali memainkan handphone-nya.
"Aduh... Aku kan sudah bosan kesana!" Kata Amel yang juga sedang mengusap keringatnya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke....... mana ya?" Kata Nesha memasang wajahnya yang kebingungan.
"Ih, Nesha! Kamu bagaimana sih, kita kan sedang bingung, kamu malah bercanda!" Kata Hilwa tanpa memalingkan wajahnya dari handphone-nya.
"Sudahlah Hilwa, dia kan hanya bercanda." Kata Muja menatap Hilwa dengan jengkel.
"Hey, Hey... Ingat tidak tugas IPA dari Bu Guru? Kita kan disuruh mencari tumbuhan yang unik." Kata Aya mengingatkan teman-temannya.
"Oh iya... Aku hampir lupa!" Kata Nesha sambil menepuk kepalanya.
"Eh, kamu kan memang pelupa!" Kata Amel sedikit tertawa.
"Hehehe..." Kata Nesha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Huuuuu... Dasar nenek-nenek!" Ucap semua teman Nesha setengah berteriak.
"Sudah sudah, bagaimana kalau kita berpetualang ke hutan saja! Sekalian kita mencari tumbuhan unik untuk tugas IPA!" Ajak Nisa dengan penuh semangat.
"Ayo!!!" Ucap semuanya kecuali Auzia. Wajah Auzia tampak gelisah.
"Eh eh, tunggu dulu deh. Aku tidak setuju karena aku takut dengan binatang buas." Kata Auzia berhenti memainkan handphone-nya.
"Tenang saja Auzia, kita akan menjaga satu sama lain!" Ucap Muja menenangkan Auzia.
"Bagaimana Auzia? Apa kamu setuju?" Kata Amel meyakinkan Auzia.
"Baiklah. Tapi janji ya, harus menjaga satu sama lain?" Tanya Auzia ragu.
"Iya, Auzia...!!!" Ucap semua teman-teman Auzia.
"Oke. Ayo kita mempersiapkan perlengkapan untuk ke hutan!" Kata Aya.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing untuk izin kepada orangtua mereka dan mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa.
Esoknya, mereka berkumpul di rumah Hilwa dan langsung berangkat menuju hutan dengan mobil yang dikendarai oleh supirnya Hilwa yaitu Pak Zulfi.
CIIIT....! Di tengah perjalanan, mobil mereka tiba-tiba berhenti.
"Pak, mobilnya kenapa?" Tanya Hilwa yang duduk di depan bersama Aya.
"Aduh maaf nak, mobilnya mogok. Pak Zulfi cuma bisa antar sampai sini saja." Kata Pak Zulfi dengan penuh rasa bersalah.
"Yah..." Kata semua anak kecuali Nisa.
"Yasudah deh Pak, tidak apa-apa." Ucap Nisa.
"Yasudah, lebih baik Bapak menelpon bengkel. Sedangkan kalian tunggu saja dulu. Bagaimana?" Kata Pak Zulfi menawarkan.
"Ti... Tidak usah Pak. Kami turun saja." Kata semua anak.
Mereka pun turun dari mobil dan melihat-lihat keadaan sekitar.
"Oh iya, kebetulan di dekat sini ada hutan. Kita kemping di hutan ini saja, yuk!" Ajak Nisa.
Kemudian mereka pun berjalan menelusuri hutan itu. Akan tetapi, saat semua berjalan di depan, Nesha melihat suatu kejanggalan.
"Apa sih ini?" Tanya Nesha sambil menyingkirkan sesuatu.
"Ada apa, Nesha?" Kata Muja yang melihat Nesha dari depan.
"Hm... Apa ya? Aku lupa." Ucap Nesha sambil memegang keningnya.
"Yasudah, abaikan saja. Mungkin itu tidak penting." Kata Muja.
Saat mereka sampai ke tempat yang cocok, hari pun mulai gelap. Mereka segera membangun tenda. Lalu setelah tenda sudah siap, mereka semua masuk ke dalam tenda.
"Duh... Perutku lapar nih, aku juga kedinginan..." Ucap Auzia sambil memegang perutnya.
"Ini ada jaket milikku." Ucap Amel sambil meletakkan jaket itu di badan Auzia.
"Terima kasih, Mel." Kata Auzia, lalu memakai jaket Amel. Amel tersenyum kecil.
"Bagaimana kalau ada beberapa di antara kita mencari kayu bakar dan sisanya menjaga tenda?" Kata Amel mengusulkan.
"Aku dong yang mencari kayu bakar!!"
"Akuuu!!"
"AKU!!"
"Aku dong..."
"Hey, sudah sudah. Bagaimana kalau yang mencari kayu bakar itu Muja, Auzia, Nesha, dan Hilwa. Sedangkan aku, Amel, dan Nisa menjaga tenda." Usul Aya.
"Oke..." Ucap semuanya.
"Kalau begitu, kita berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum..." Ucap Hilwa diikuti dengan Muja, Nesha, dan Auzia.
"Wa'alaikumussalam... Hati-hati yaa..." Ucap Aya, Nisa, dan Amel.
Di tengah perjalanan mencari kayu bakar, ada dua jalan dengan arah yang berbeda. Terjadi kejadian antara keempat sahabat itu.
"Hey, kita lewat sini saja, yuk!" Ucap Hilwa sambil menunjuk jalan kanan.
"Jangan! Sepertinya ada banyak binatang buas disana." Kata Muja. Tetapi Hilwa tetap ingin ke jalan kanan.
"Tetapi, pasti nanti kita menemukan banyak kayu bakar disana!" Kata Hilwa lalu berjalan ke jalan kanan.
"Jangan, itu terlalu berbahaya!" Kata Muja menahan Hilwa dengan memegang pundaknya.
"Yasudah, kalian kesana saja. Aku ingin ke jalan ini!" Kata Hilwa melepaskan tangan Muja dari pundaknya, lalu berjalan masuk ke dalam jalan kanan.
Saat di tenda...
"Aduh... aku punya firasat buruk, deh." Kata Aya dengan wajah khawatir.
"Jangan bicara seperti itu, Aya. Nanti kalau terjadi bagaimana?" Kata Amel.
"Sudah sudah. Lebih baik kita tunggu saja mereka." Kata Nisa menenangkan kedua sahabatnya itu.
Setelah beberapa lama kemudian, Muja, Nesha, dan Auzia datang ke tenda.
"Mana Hilwa!?" Kata Amel panik.
"Lho, kami kira Hilwa sudah kembali ke tenda!" Kata Muja ikut panik.
"Lalu dimana Hilwa sekarang? Ayo kita cari!" Kata Aya yang juga panik.
"Eh tunggu dulu, nanti kalau kita tersesat bagaimana?" Kata Nesha bingung.
ZREEET.... Tiba-tiba resleting tenda terbuka.
"HILWA!!??" Teriak semuanya kecuali Hilwa.
"Tadaa! Aku menemukan tumbuhan unik ini!!" Ucap Hilwa sambil menunjukkan setangkai mawar biru yang ditemukannya.
"Alhamdulillah, akhirnya Hilwa kembali!" Kata semua teman Hilwa.
"Aku kira kamu dimakan harimau!" Kata Nisa. Semua pun tertawa.
"Hilwa, darimana saja kamu, kami sangat khawatir menunggumu." Ucap Aya yang sangat khawatir pada sahabat terbaiknya itu.
"Hehehe, maaf. Aku semalaman mencari tumbuhan ini!" Kata Hilwa sambil menggaruk kepalanya.
"Yasudah, kan kita sudah menemukan tumbuhan uniknya, ayo kita nyalakan api unggunnya! Lalu setelah itu kita tidur, deh!" Kata Auzia. Semuanya mengangguk setuju.
Mereka keluar dari tenda dan membuat api unggun dari kayu bakar yang telah dicari oleh Muja, Auzia, Nesha, dan Hilwa. Mereka duduk di sekitar api unggun itu untuk menghangatkan diri dari udara yang sangat dingin. Mereka juga berbagi makanan ringan yang dibawa masing-masing anak. Mereka bertujuh juga membawa bekal masing-masing dan berbagi lauk pauk. Setelah mereka kenyang, mereka pun lelah dan mengantuk. Akhirnya mereka masuk kedalam tenda yang besar itu kembali dan tidur dengan beberapa bantal dan selimut besar yang dibawa oleh beberapa anak.
Esoknya, mereka segera merapikan tenda dan bersiap untuk pulang dari hutan. Mereka pulang dari hutan dengan petunjuk sandi rumput dari Amel, si ahli pramuka.
Setelah menemukan jalan raya, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing dengan menumpang di mobil truk yang lewat. Lalu mereka menceritakan kejadian berkemah di hutan yang seru itu kepada keluarga mereka.
Keesokan harinya, mereka bertujuh mengumpulkan tumbuhan unik yang ditemukan oleh Hilwa itu. Mereka segera menuju Ruang Guru dan berkumpul di meja Bu Guru. Mereka siap-siap mendengarkan nilai kelompok mereka.
"Kalian mendapat nilai....... seratus! Selamat ya, kelompok kalian mendapat nilai tertinggi!" Ucap Bu Anis, guru IPA kelas mereka.
"Alhamdulillah..." Ucap semuanya penuh rasa syukur.
***
"Alhamdulillah, setelah perjuangan yang panjang, akhirnya mendapat nilai 100 juga!" Ucap semuanya saat istirahat tiba.
"Iya, ya... Oh iya teman-teman, gelangku hilang! Itu pemberian dari almarhumah ibuku!" Kata Nesha panik, sambil memegang-megang tangan kirinya.
"Kamu sudah cari di rumahmu?" Tanya Amel. Nesha mengangguk cepat.
"Iya, aku sudah cari. Tadi sebelum ke ruang guru, sebenarnya aku ingin bicara kepada kalian. Tetapi setelah mendapat nilai 100, aku jadi lupa." Ucap Nesha. Nesha memang anak yang sangat pelupa diantara teman-temannya yang lain.
"Yasudah, bagaimana kalau kita kembali ke hutan itu? Mungkin gelang Nesha tertinggal di sekitar tenda." Nisa mengusulkan.
"Oke, pulang sekolah kita berkumpul di taman kemarin. Kita langsung berangkat ke hutan itu nanti." Kata Hilwa. Yang lainnya pun mengangguk.
Sepulang sekolah, mereka langsung berkumpul di taman. Setelah semua sudah datang dan tidak ada yang tertinggal, mereka pun berangkat lagi ke hutan itu dengan naik angkutan umum kali ini.
Sampai disana, mereka menelusuri hutan itu kembali sambil melihat-lihat tanah yang mereka pijak, mungkin saja ada terjatuh gelang Nesha disana. Saat di tengah perjalanan dan semuanya telah di depan, Aya melihat suatu kejanggalan yang dilihat Nesha kemarin. Ternyata, itu adalah papan bertuliskan 'HUTAN TERLARANG! DILARANG MASUK!".
"Ada apa, Aya?" Tanya Amel yang melihat Aya dari depan. Semua anak pun menghampiri Aya.
"Ini, ternyata kejanggalan yang dilihat Nesha kemarin adalah papan ini!" Aya menyingkirkan daun-daun disekitar papan itu. Dan terlihatlah isi papan itu.
"HUTAN TERLARANG!?" Teriak semua anak membaca tulisan di papan itu.
"Yasudah, lebih baik kita pulang saja!" Kata Auzia takut.
"Yah...! Gelangku bagaimana!?" Nesha mulai khawatir dicampur rasa marah karena Auzia ingin pulang.
Tiba-tiba, Nesha melihat bayangan seorang kakek-kakek dari kejauhan yang sedang memegang sesuatu.
"HA... HA... HANTU!!!" Teriak Nesha lalu berlari ketakutan. Teman-temannya pun ikut berlari ketakutan saat mendengar Nesha berteriak seperti itu.
"Hey, Hey!! Tunggu dulu! Itu bukan hantu, melainkan kakek-kakek! Bagaimana sih, Nesha!" Ucap Nisa, lalu menarik Nesha mendekat ke seorang kakek yang sedang berjalan mendekati mereka. Teman-teman yang lainnya mengekor Nisa dan Nesha di belakang, dengan hati-hati.
"Cu... Ini gelangmu cu... Kakek menemukannya saat berkeliling di hutan ini dan melihat gelangmu ini terjatuh di dekat kayu bakar-kayu bakar yang bertumpuk." Ucap kakek itu sambil terus berjalan ke arah mereka. Mereka semua mendengar kata-kata kakek itu.
"Terima kasih, kek. Maaf tadi saya mengira kakek ini hantu. Sekali lagi terima kasih, kek." Ucap Nesha membungkukkan badannya, meminta maaf sekalian berterima kasih kepada kakek itu. Nesha pun menerima gelang itu dengan perasaan sangat senang.
"Terima kasih, kek. Kami pulang dulu ya! Assalamu'alaikum..." Mereka semua pamit pulang kepada kakek itu. Kakek itu tersenyum kecil dan berbalik, lalu berjalanke arah yang berlawanan dengan mereka.
"Tuh kan, apa aku bilang. Kamu sih, udah berprasangka buruk duluan." Nisa terus menyalahkan Nesha di perjalanan pulang ke rumah.
"Iya, Iya, Iya!! Aku tahu, aku tahu." Hanya itulah ucapan Nesha untuk menjawab perkataan Nisa.
Semua anak yang berada di angkutan umum itu pun tertawa bahagia.
~ S E L E S A I ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar